17 Oktober 2012

APA ITU WALL STREET?


Wall Street bukanlah kata yang asing di dunia finansial. Jika Anda buka Wikipedia maka di sana tertulis bahwa Wall Street sebenarnya sekadar nama sebuah jalan (Jalan Wall) di pinggiran Kota Manhattan, New York, yang membujur mulai dari Timur yaitu dari Broadway menuruni lembah ke arah South Street di East River, melewati pusat historis dari distrik keuangan Amerika yaitu Manhattan.
Namun, jalan itu bukan sekadar jalan biasa karena di sanalah terdapat Gedung Wall Street yang merupakan gedung permanen pertama dari New York Stock Exchange (NYSE). Banyak sekali bursa saham dan bursa perdagangan lainnya berkantor pusat di Wall Street dan di Distrik Keuangan(Financial District) termasuk NYSE, NASDAQ, AMEX, NYMEX, dan NYBOT.  Tak ayal, Wall Street adalah sebuah tempat dimana di dalamnya terjadi transaksi keuangan yang nilainya mencapai miliaran dolar AS setiap hari. Tidak berlebihan jika Wall Street disebut sebagai sentral atau pusat keuangan dunia.
Wall Street sangat menentukan nasib jutaan manusia dan juga nasib puluhan bahkan ratusan perusahaan kakap dunia. Jika Wall Street terserang "flu" hingga bersin-bersin misalnya, maka bisa dipastikan banyak orang akan terkena efeknya. Para pelaku pasar di belahan dunia lain pasti akan merasakan getarannya. Indikator ekonomi negeri Paman Sam juga sangat mudah terbaca di Wall Street. Indikasinya, jika indeks saham di Wall Street turun dalam berarti ada sesuatu yang tidak beres di perekonomian AS. Sebaliknya, jika indeks di Wall Street mengalami kenaikan secara konsisten maka hal itu menggambarkan bahwa ekonomi negeri adidaya itu sedang bersinar cerah.
Di Wall Street ada banyak indikator saham yang seringkali menjadi acuan pelaku pasar dunia. Selain indeks NYSE sendiri, di sana ada indeks yang sangat terkenal di dunia yakni indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) yang terdiri dari 30 saham papan atas. Tidak ada yang ragu dengan kredibilitas indeks DJIA.
Ia selalu menjadi motor ataupun  panutan bagi investor. Jika indeks DJIA terkoreksi maka biasanya saham-saham lain di NYSE dan bursa dunia juga ikut merosot. Tak terkecuali Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI). Begitupun jika indeks DJIA naik signifikan, maka indeks-indeks bursa regional juga akan terbawa-bawa naik. Selain DJIA, juga masih ada indeks S&P 500, berisi 500 jenis saham yang tercatat di NYSE.
Pengaruh Wall Street terhadap bursa-bursa regional dan negara berkembang (emerging market) seperti BEI memang cukup signifikan. Ini bisa dimaklumi, mengingat sektor keuangan negara adidaya itu memang tengah menjadi sorotan dunia. Ratingnya turun dari AAA menjadi AA+, harga saham sedang measuki fase bearish atau pelemahan yang banyak diperbincangkan orang. Paling tidak ada dua hal yang bisa dijabarkan disini. Pertama, suka tidak suka harus diakui bahwa selama ini aktifitas ekonomi dan tentu saja transaksi keuangan dunia didominasi oleh Amerika Serikat.
Lembaga-lembaga keuangan papan atas di dunia mayoritas bercokol di AS, seperti Merril Lynch, Goldman Sach, Citibank, American Express, Bank of America, Asuransi AIG dan masih banyak lagi yang bertebaran dengan nilai kekayaan ratusan miliar dolar AS. Mereka memiliki cabang-cabang hampir di seluruh dunia, termasuk negara berkembang seperti Indonesia. Lembaga keuangan itu mengelola dana dalam jumlah yang fantastis dan diinvestasikan di seluruh dunia.
Kedua, pasar saham di Wall Street selama ini memang menjadi pusat investasi sektor keuangan terbesar dunia. Berbagai produk keuangan diperdagangkan di sana. Hampir seluruh perusahaan besar dunia mencatatkan sahamnya di pasar saham Amerika Serikat. Ribuan perusahaan tercatat di sana. Investor memiliki pilihan investasi yang sangat beragam dan didukung oleh  tehnologi canggih dan diatur oleh peraturan yang ketat. Dua BUMN Indonesia yang sahamnya tercatat dsn diperdagangkan di sana, yakni PT Telkom Tbk dan PT Indosat Tbk.
Dengan kapasitas seperti itu, apa yang terjadi di Wall Street sangat berpengaruh terhadap sektor keuangan dunia. Dan ketika Wall Street nyaris kolaps -seperti yang terjadi pada kuartal empat 2008 lalu- maka seluruh bursa efek dunia ikut kena getahnya. Indeks Harga Saham Gabungan di seluruh bursa dunia terpukul gara-gara anjloknya indeks saham di Wall Street. Dari sinilah mengapa berita soal kejatuhan Wall Street menjadi bahan perbincangan yang heboh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar